Sejarah Unggas

Unggas merupakan jenis hewan bertulang belakang (chordata) masuk dalam kelas aves (bersayap) yang telah mengalami domestikasi (diternak) untuk memenuhi kebutuhan manusia seperti daging dan telur. Unggas masuk dalam ordo anseriformes (entok, angsa, itik, dan undan), serta galliformes (puyuh, kalkun, ayam). Unggas termasuk hewan monogastrik, yaitu hewan yang memiliki satu lambung. Hewan ini berbeda dengan hewan ruminansia yang memiliki lambung yang terbagi menjadi empat kompartemen/bagian, yaitu rumen, retikulum, omasum, dan abomasum. Yang menyebabkan hewan tersebut mampu memanfaatkan mikroba dalam membantu mencerna zat-zat makanan seperti serat. Mikroba itu sendiri juga dapat dimanfaatkan oleh hewan ruminansia sebagai sumber protein. Lain halnya dengan hewan monogastrik yang tidak mampu mencerna dan memanfaatkan makanan berserat sebanyak hewan ruminansia karena hewan monogastrik memiliki alat pencernaan atau lambung hanya satu (Artikel Peternakan, 2013).

Jika dilihat dari asal usul ayam-ayam yang ada sekarang diduga berasal dari ayam-ayam liar (Wild-fowl) atau ayam hutan dari Gallus species. Adapun gallus species yang memungkinkan adanya ternak ayam sekarang ini ada 4, yaitu:

1. Gallus gallus
Dikenal dengan Gallus bankiva, gallus ferrugenius, Red Jungle Fowl. Tempat hidup di sekitar hutan India, Burma, Siam (Muangthai), Chocin China (Indo China), Filipina, Malaysia dan Sumatera Barat. Ciri-cirinya, bulu utama pada ekor sebanyak 14 helai, jengger satu, pial dua, badan relatif kecil dibanding dengan ayam sekarang. Jantan mempunyai bulu pada bagian leher, sayap dan punggung berwarna merah, sedangkan bagian dada dan badan bawah berwarna hitam. Pada betina bulu berwarna coklat bergaris hitam, telur kecil berkulit merah kekuningan.

2. Gallus lafayetti
Dikenal dengan Ceylonese Jungle Fowl. Tempat hidup di sekitar Pulau Ceylon (Srilangka). Ciri-cirinya mirip Gallus gallus, hanya bulu jantan pada bagian leher, sayap dan punggung berwarna merah, sedangkan bagian dada dan badan bawah berwarna jingga. Pada bagian tengah jengger warna kuning dikelilingi merah, kulit telur berbintik-bintik.

3. Gallus sonneratti
Dikenal dengan Grey Jungle Fowl. Tempat hidup di sekitar hutan India bagian barat daya dari Bombay sampai Madras. Ciri-cirinya mirip dengan Gallus gallus, hanya pada bulu ada aspek warna abu-abu. Kulit telur kadang-kadang berbintik-bintik.

4. Gallus varius
Dikenal dengan Green Jungle Fowl/Japan Jungle Fowl. Tempat hidup di sekitar hutan Jawa Timur, Bali, Lombok, Nusa Tenggara sampai Flores. Ciri-cirinya memiliki bulu utama pada ekor sebanyak 16 helai, jengger satu; licin, pial satu terletak antara rahang, Badan relatif kecil dibanding dengan ayam sekarang, Bulu pada jantan dapat ditemukan di bagian leher (pendek dan bulat), berwarna hitam dilapisi warna kehijauan pada permukaan atas.

Terdapat dua teori yang cukup terkenal tentang asal-usul ayam piaraan, yaitu sebagai berikut

A. Monophyletic Origin
Teori Monophyletic Origin yang dikemukakan oleh Darwin (1868) menyatakan bahwa ayam piaraan berasal dari satu spesies Gallus gallus. Teori ini didukung oleh kenyataan berikut.

  1. Keturunan dari hasil perkawinan antara Gallus gallus dan ayam piaraan tenyata dapat memberikan fertilitas yang cukup tinggi
  2. Suara Gallus gallus hampir sama dengan suara ayam piaraan yang ada sekarang ini
  3. Persilangan antara Gallus gallus dan ayam piaraan memberikan ke turunan dengan warna bulu merah dan hitam seperti pada Gallus gallus.
  4. Ada ayam-ayam piaraan yang berbulu longgar dan kaki berbulu (ayam ayam Asia), tetapi nenek moyang ayam tersebut telah punah.

B. Polyphyletic Origin
Teori ini dikemukakan oleh Gigi (1922), menyatakan bahwa asal-usul ayam piaraan adalah dari keturunan beberapa spesies ayam. Teori ini didukung alasan sebagai berikut:

  1. Persilangan antara keempat spesies gallus dan ayam piaraan menghasilkan telur fertil, kecuali keturunan betina dari persilangan ayam piaraan betina dengan Gallus varius jantan.
  2. Nenek moyang ayam Asia yang kakinya berbulu dianggap hilang.
  3. Adanya persamaan bulu antara Gallus gallus jantan, Brown Leghorn jantan dan Black Breasted Red Game jantan. Gallus gallus betina hampir sama dengan Light Leghorn betina atau Black Breasted Red Game betina. Warna-warna ini akan memberikan warna buff, brown, dan red sehingga memberikan beberapa warna bulu.
  • Gallus lafayetii mirip dengan Gallus gallus, kecuali warna merah orange dari Gallus lafayette jantan yang terdapat pada dada dan sekitarnya. Sementara Gallus lafayetei betina, bulu sekundernya mempunyai garis warna hitam melingkari tubuhnya. Suara Gallus lafayette jantan berbeda dengan suara Gallus gallus jantan
  • Gallus sonneratii mempunyai warna bulu yang berbeda dengan Gallus gallus dan Gallus lafayetii. Bulu Gallus sonneratii berwarna abu-abu tanah (putih) bercampur dengan warna kuning emas.
  • Gallus varius berbeda dengan ketiga spesies lain, yaitu mempunyai warna hitam kehijau-hijauan pada yang jantan dan coklat-hitam kehijau-hijauan pada betina, kecuali wama bu┼┐ pada bagian bawah bulu

Akibat dari persilangan tersebut timbullah perbedaan dan persamaan warna bulu pada ayam piaraan kita, bahkan muncul pula ayam leher gundul (legund) dan walik yang masing-masing membawa gen Na dan F yang terdapat pada kromosom autosomal (Horst, 1988; Horst dan Mathur, 1989).

Semenjak ditemukan gen dwarf (dw) oleh Hutt (1949). ayam puiraan tersebut dikembangkan di Amerika dan Eropa Barat untuk membentuk hybird commercial stock dengan program breeding berlandaskan bioteknologi konvensional, yaitu segregasi gen menurut Mendel diikuti dengan seleksi menggunakan metode matematik dengan memanfaatkan pure breed dan non pure population. Akhirnya, terbentuklah ayam high stock production baik ayam petelur maupun pedaging yang sangat terkenal saat ini. Keuntungan ditemukannya gen card terhadap perkembangan perunggasan adalah :

  1. terjadinya penurunan berat badan sebanyak 25% sehingga ayam menjadi langsing;
  2. konsumsi pakan menurun hingga 30% sebagai akibat dan penurunan berat badan;
  3. terjadinya penurunan sedikit dari produksi telur, tetapi tidak berbeda nyata dengan ayam normal (gen DW);
  4. tidak terjadi modifikasi berat dan kualitas telur;
  5. konversi pakan menurun sampai 10%;
  6. kaki lebih pendek sehingga lebih tahan terhadap temperatur tinggi, maka sangat cocok untuk ayam piaraan di negara-negara tropis;
  7. lebih tahan terhadap penyakit

Sistematika Bangsa Unggas

Dalam sistematika bangsa unggas atau sering disebut dengan taksonomi, ayam termasuk dalam Animal Kingdom dengan phylum Chordata, subhy lum Craniata (Vertebrata), dan kelas Aves (Avis = burung). Secara umum, bangsa unggas piaraan memiliki empat ordo, yaitu ordo Anseriformes, Gal galliformes, Columbiformes, dan Struthioniformes

Ordo Anseriformes mempunyai famili antara lain Anatidae, subfamili Anatinae dan Anserinae. Anatinae menurunkan genus Anas dan Cairina yang masing-masing menurunkan spesies itik (Anas platyrhynchos) dan entok (Cairina moschata). Sementara itu, Anserinae menurunkan angsa dan undan. Ayam (Gallus domesticus), kalkun (Meleagris galopavo), dan puyuh (Coturnix coturnix) merupakan spesies-spesies keturunan dari ordo Galli formes dengan genus Gallus, Meleagris, dan Coturnix. Sementara, itik mutiara (Numida meleagris) merupakan genus Numida dari famili Numididae.

Ordo Columbiformes menurunkan genus Columba dan spesies Columba livia (merpati) dan burung unta (Struthio Camelus) yang merupakan spesies keturunan dari ordo Struthioformes. Untuk lebih jelasnya, sistematika unggas secara umum dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *