Jenis Dan Tipe Ayam Komersial (Strain Modern)

Untuk mendapatkan strain modem, pembibit perlu melakukan perkawinan dan seleksi dari induk ayam yang sesuai dengan tujuannya. Selama seleksi ini, 30% ditentukan oleh genetik atau sifat bawaan ayam dan 70% ditentukan oleh lingkungan. Sifat bawaan dapat berupa karakter fisik, antara lain warna bulu, tipe jengger, dan warna kulit.

Karakter fisiologi antara lain enzim khusus yang mampu melakukan regulasi enzim pada metabolisme sel somatik dan sel kelamin dengan pembentukan gamet. Sementara itu, faktor lingkungan meliputi temperatur pemeliharaan, lama pencahayaan, makanan yang diberikan, tata laksana pemeliharaan, penyakit, dan manajemen perkawinan. Interaksi antara faktor genetik dan lingkungan dapat pula membentuk penampilan ayam yang dihasilkan. Contoh terjadinya strain Shaver 566 dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.

Skema perkawinan untuk menjadi strain komersial

Adapun sel reproduksi pada unggas, baik pada ayam jantan maupun ayam betina, dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.

Alur terjadinya ovum dan spermatozoa pada unggas

Perkembangan ayam pada fase embrio dilakukan dengan mitosis, di mana dari satu menjadi empat, sedangkan pada saat dewasa dari satu menjadi dua gamet. Dalam sel kelamin jantan dan betina terdapat material genetik yang dinamakan kromosom, yaitu material pembawa informasi genetik yang di dalam inti sel disebut DNA (Deoxyribonucleic Acid). Sementara, dalam kromosom terdapat material pembawa keturunan yang dinamakan gen. Gen tersusun atas tiamin, adenin, sitosin, dan guanin, yang mengandung gula dan fosfat. Tipe kromosom ada dua, yaitu autosom dan seks kromosom.
Jumlah kromosom pada ayam 38-39 pasang, pada ayam jantan mempunyai pasangan ZZ (homogamet) dan pada betina adalah ZW (heterogamet). Skema perkawinan pada ayam pembibit mengikuti hukum Mendel (lihat Tabel di bawah ini).

Tabel Model Perkawinan Pada Ayam Pembibit

Dengan model perkawinan seperti ini maka perkawinan antara ayam pejantan rose comb (RR) dan betina single comb (IT) akan menghasilkan perbandingan tiga rose comb dan satu single comb. Namun, ada beberapa sifat fenotip yang dominan terhadap sifat yang lain, misalnya:

  1. rosecomb dominan terhadap single comb;
  2. bulu barred dominan terhadap non-barred;
  3. bulu warna perak dominan terhadap warna keemasan;
  4. pertumbuhan bulu lambat dominan terhadap bulu cepat:
  5. mengeram dominan terhadap non-mengeram;
  6. kulit putih dominan terhadap kulit kuning:
  7. kaki (shank) berbulu dominan terhadap shank yang tidak berbulu.

Sex linkage inheritance (rangkaian kelamin) merupakan sifat yang di turunkan kepada anak dari tetua berdasarkan kelamin induknya. Artinya, sifat pejantan diturunkan kepada anak betina dan sifat induk betina diturun kan kepada anak jantan. Kegunaan sex linkage penting untuk:

  1. membedakan jenis kelamin anak ayam umur sehari dan
  2. persilangan induk untuk mendapatkan sifat yang baik.

Beberapa sifat sex linkage yang ditemukan pada ayam adalah wama bulu, warna kulit, warna shank, kecepatan pertumbuhan, kecepatan matang kelamin, dan sifat mengeram. Contoh perkawinan dari sifat sex linkage dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.

Tabel Perkawinan Sifat Sex Linkage pada Warna Bulu

Jantan non-barred mempunyai zigot sepasang 38+b, sedangkan betina barred mempunyai zigot 38+ B dan 38. Apabila terjadi perkawinan maka akan diperoleh dua jantan barred dan dua betina non-barred.

Tabel Perkawinan Sifat Sex Linkage pada Pertumbuhan Bulu

Bulu cepat dapat dideteksi apabila anak ayam yang baru menetas mem punyai bulu sayap sekunder 7 buah. Sebaliknya, bulu lambat apabila bulu sayap sekunder saat menetas tidak tampak Syarat untuk memanfaatkan sex linkage adalah
1. ayam betina harus mempunyai sex linkage dominan dan
2. ayam jantan memiliki sex linkage resesif.

Oleh karena itu, pejantan mampu memindahkan sifatnya pada anak baik jantan maupun betina. Sementara itu, induk betina hanya mampu memindahkan sifatnya pada anak dengan jenis kelamin jantan. Sifat pertumbuhan bulu cepat pada anak ayam ditandai dengan hal-hal sebagai berikut.

  1. Bulu sayap primer sama panjangnya dengan bulu sayap sekunder.
  2. Jumlah bulu sayap sekunder tampak lebih sedikit dan perkembangannya lambat
  3. Bulu ekor umur 10 hari belum tampak

Ayam yang mempunyai bulu lambat dapat diketahui dengan cara sebagai berikut

  1. Bulu sayap sekunder 2/3 lebih panjang daripada sayap primer,
  2. Jumlah bulu penutup lebih dari 7 buah dan berkembang hampir bersamaan atau sama dengan bulu primer.
  3. Bulu ekor hampir setengah inci pada saat anak ayam berumur 10 hari.

Beberapa contoh hasil perkawinan menggunakan sex linkage untuk ayam adalah sebagai berikut.

  1. Warna barred pada anak ayam jantan dan non-barred pada betina
  2. Warna bulu cokelat tua pada jantan dan cokelat muda pada betina
  3. Terdapat spot putih pada ayam jantan strain Harco dan hitam total pada betina
  4. Pertumbuhan bulu sayap lambat pada anak ayam jantan dan cepat pada betina

Untuk mendapatkan strain ayam, pembibit dapat melakukan beberapa macam persilangan, antara lain sebagai berikut.

  1. Out breeding, yaitu persilangan ayam dari breed atau varietas sama tetapi asalnya berbeda, untuk memperbaiki kualitas keturunan dengan meningkatkan heterozigot.
  2. Persilangan cross breeding, yaitu persilangan antara ayam dari breed atau varietas yang berbeda dengan tujuan untuk mendapatkan kombinasi gen.
  3. Perkawinan inbreeding, yaitu perkawinan atau persilangan ayam yang masih mempunyai hubungan kekerabatan, misalnya antara saudara sepupu dinamakan mild breeding dan antara saudara kandung yang dinamakan close breeding

Ada empat metode perkawinan pada seleksi ayam untuk mendapatkan telur ayam yang fertil, yakni sebagai berikut.

  1. Flock mating, yaitu perkawinan satu ayam jantan dengan sekelompok betina pada setiap flock (kandang). Pada ayam petelur tipe ringan, misalnya White Leghorn, perbandingan antara jantan dan betina adalah 1:15-20. Perbandingan jantan dan betina pada ayam tipe pedaging adalah 1 : 8-10. Sementara itu, pada ayam tipe dwiguna menggunakan perbandingan I: 10-15.
  2. Pen mating, yaitu perkawinan antara beberapa ayam betina dan satu ayam jantan, ayam jantan dipindahkan dari satu kandang ke kandang lain.
  3. Stud mating, yaitu perkawinan antara satu ayam jantan dan satu ayam betina. Biasanya, model perkawinan ini digunakan untuk seleksi individu.
  4. Inseminasi buatan (IB), yaitu perkawinan pada ayam yang dilakukan dengan cara memasukkan sperma ke dalam oviduk dengan mengguna kan alat. Jumlah atau konsentrasi sel sperma biasanya ditentukan antara 100 juta – 250 juta sel sperma/ml. Pada perkawinan ini seekor pejantan mampu mengawini 100 ekor betina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *